GERHANA KEMBAR CLARA NG PDF

Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta. Dalam novel novel sebelumnya, Dim Sum Terakhir, Clara Ng mengisahkan pertemuan empat perempuan kembar yang tiba-tiba harus pulang ke rumah masa kecilnya karena papanya terserang stroke. Papa yang sakit, yang sejak awal menjadi pemicu cerita, akhirnya meninggal dunia setelah koma. Novel ini mengambil latar kaum Tionghoa di Indonesia. Dengan tema besar lesbianisme, yang notabene masih sensitif di negara kita, Clara Ng bertutur tanpa prasangka.

Author:Fenrijin Malar
Country:Saudi Arabia
Language:English (Spanish)
Genre:Automotive
Published (Last):16 October 2015
Pages:392
PDF File Size:8.6 Mb
ePub File Size:20.14 Mb
ISBN:903-6-16250-906-3
Downloads:72021
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Mugor



Novel ini bercerita tentang Fola dan Henrietta, sepasang lesbian yang menjadi tokoh utama. Cerita diawali dengan pertemuan Fola dan Henrietta.

Dalam novel novel sebelumnya, Dim Sum Terakhir, Clara Ng mengisahkan pertemuan empat perempuan kembar yang tiba-tiba harus pulang ke rumah masa kecilnya karena papanya terserang stroke. Papa yang sakit, yang sejak awal menjadi pemicu cerita, akhirnya meninggal dunia setelah koma.

Novel ini mengambil latar kaum Tionghoa di Indonesia. Dengan tema besar lesbianisme, yang notabene masih sensitif di negara kita, Clara Ng bertutur tanpa prasangka. Ia seolah-olah ia tak ingin memberi jarak antara tulisannya dengan pembaca. Adegan ciuman pertama sepasang lesbian, misalnya, mampu Clara diceritakan dengan sangat lumrah.

Pembaca dapat merasakan femininitas sekaligus maskulinitas yang muncul pada tokoh Henrietta. Clara dengan sengaja mengesampingkan pendapat pembaca yang mungkin negatif terhadap kaum homoseksual. Struktur macam ini kerap digunakan oleh penulis-penulis populer Amerika, penulis-penulis yang ingin berkisah tentang belajar memaafkan dan memaklumi.

Dalam Wednesday Letters karya Jason F. Sebagai seorang pendongeng, Clara Ng tahu apa yang ingin dia ceritakan. Sebagai seorang novelis, ia adalah penulis yang mampu menulis dengan ritme sangat stabil dari awal sampai akhir. Pembaca tak akan menemukan ritme yang tiba-tiba terlalu cepat atau terlalu lambat hingga membuat bosan.

Ia sangat tahu apa yang harus ditulis untuk membuat pembaca merasa ikut berempati pada sepasang lesbian yang sedang jatuh cinta. Justru pembaca jadi sangat maklum kenapa ia meletakkan metafora itu di situ: sebagai bentuk rayuan seorang kekasih. Agaknya ia sama sekali tidak tergoda untuk berkhotbah membela hak-hak kaum homoseksual.

Untuk dua novel yang sama-sama mengangkat tema lesbianisme, gaya penceritaan Clara Ng sangat berbeda dengan Herlinatiens dalam novel Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel yang terbit tahun lalu, sempat menjadi banyak perdebatan karena membuka gamblang kehidupan seorang lesbian. Psikologi tokoh yang dibangun Herlina, antara amarah, sikap berontak, sekaligus kasmaran sangat terasa di banyak tempat. Pembaca dapat merasakan itu semua sekaligus pada akhirnya, khusunya untuk mereka yang bukan homofobia memakluminya sebagai bentuk perlawanan tokoh yang terjepit keadaan.

Sedang, dalam Gerhana Kembar, campur aduk emosi macam itu tak akan ditemui pembaca. Clara jauh lebih cool meski tema yang ia angkat sangat mampu diperdebatkan. Sayangnya, justru karena terlalu cool inilah psikologi tokoh-tokoh dalam Gerhana Kembar jadi kurang tergali.

Salahkah saya jika saya benar-benar homoseks? Berdosakah saya? Bagaimana pandangan masyarakat dan agama? Terutama Fola, sebagai tokoh perempuan yang digambarkan sangat konvensional, agak aneh jika tidak mempertanyakan itu semua.

Ia begitu saja menerima Henrietta, nyaris tanpa pretensi apa-apa. Fokus kedua penulis ini memang sejak awal sudah berbeda: Clara mentikberatkan pada cerita cinta, sedang Herlina menitikberatan pada satu figur lesbian yang diciptakannya. Mengenai homofobia, meskipun kata itu muncul beberapa kali di novel ini, tetapi perannya tidak terlalu dominan. Meski demikian, mungkin dengan cara seperti inilah justru cerita homoseksual bisa diterima di masyarakat luas tanpa dihakimi terlebih dahulu di awal, sampai-sampai Kompas mau menayangkannya sebagai cerita bersambung.

Saya pikir, meski Clara tak ikut berkoar-koar, niat penulis untuk mengangkat tema tertentu saja sudah menunjukkan bahwa ia peduli. Tujuan Clara yang utama sepertinya cuma satu: bercerita.

M25P64 VMF6P PDF

Gerhana Kembar by Clara Ng

Sejak novel pertamanya, Tujuh Musim Setahun Dewata Publishing, , Clara telah mengembuskan isu ini ke dalam novel-novel dewasanya. Menurut Clara, tema ini adalah tema yang sensitif dan malas disentuh oleh para penulis Indonesia. Pendapat yang tidak sepenuhnya benar mengingat sebelumnya telah terbit karya-karya dengan tema serupa. Sebut misal, Mira W, penulis roman prolifik Indonesia, yang pernah menjadikan isu ini sebagai tema utama novelnya, Relung-relung Gelap Hati Sisi Gerhana Kembar, novel Clara kesembilan yang bertema lesbianisme, diakuinya Dari Meja Clara Ng ditulis setelah kerja dan riset yang teliti. Sebuah kegembiraan bagi Clara, karena untuk pertama kalinya, novelnya berhasil menjadi cerita bersambung di harian Kompas Oktober Januari Dan sebelum masa tayangnya, ternyata Gerhana Kembar telah diterbitkan sebagai buku oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama Desember,

EUGENIO BULYGIN PDF

GERHANA KEMBAR CLARA NG PDF

Posted by Anonymous Labels: buku , lesbian Gerhana Kembar menjadi novel yang teramat penting dalam catatan sejarah sastra Indonesia. Mengikuti jejak novel fenomenal karya legenda sastra Indonesia, Marga T. Dan bisa dibilang, Gerhana Kembar adalah novel bertema lesbian yang dibaca oleh puluhan ribu pembaca koran setiap harinya. Novel ini dibuat dengan kisah pararel antara tahun an dan masa sekarang. Mengisahkan tiga generasi nenek-ibu-cucu bernama Diana, Eliza, dan Lendy yang terangkai melalui sebuah naskah tua.

LOLO MANCO PDF

Gerhana Kembar

Resensi Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya membaca kisah dengan tema mirip seperti ini. Tentang seorang wanita yang diam-diam menyelingkuhi suaminya demi bersama wanita yang ia cintai, dan kisah ini memanjang sejauh tiga generasi! Kalau saya sudah pernah membaca cerita serupa rasa-rasanya cerpen Rahasia new form of self harm adalah mati matian ingin tahu apa yang bakal terjadi tapi memaksa diri membaca kata demi kata. Kalau saya sudah pernah membaca cerita serupa rasa-rasanya cerpen Rahasia Bulan karya Clara Ng di antologi berjudul sama mengungkit tema serupa maka cerita itu tidak sedalam Gerhana Kembar. Saya menyukai tokoh-tokoh yang ada dalam buku ini.

ILLUSTRATED SOURCEBOOK OF MECHANICAL COMPONENTS ROBERT PARMLEY PDF

She took up reading at a young age, reportedly capable of reading translations of The Adventures of Tintin by kindergarten. She completed her high school education at Bunda Hati Kudus, graduating in While in high school, she became interested in social issues, including discrimination faced by ethnic Chinese , LGBT , and women. The title was a result of Ng combining the Sun commonly representative of men and the Moon commonly representative of women to create a united symbol to represent homosexuality. The collection dealt mainly with death. The collection was followed in by the novel Tea For Two, which was first published as a serial in Kompas.

Related Articles